Semua terjadi begitu saja, saat sapa lembutnya menjaring nyata menyentuh gendang telinga, saat percakapan kecil yang tercipta berubah menjadi narasi nyata. Aku dan dia mengalir begitu saja, seperti curah lembut hujan yang jatuh ke permukaan tanah. Sederhana sekali, karna cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.
Sering kali aku menatapnya dalam-dalam, menyelami sejuk matanya, tercebur dalam hatinya, lalu terpeleset dalam aliran darahnya. Aku sangat ingin menjadi bagian dalam setiap detak jantungnya, aku ingin ikut berhembus saat helaan nafasnya. aku ingin menjadi yang terakhir dalam hidupnya. Tapi apa semua ingin dan harapku akan menjadi kenyataan?
Sosok dia menjadi begitu penting dalam setiap bangun pagi hingga tidur malam ku. Sedetik, semenit, sejam, seharian, hanya dia saja yang begitu rajin menghampiri otakku. Aku ragu kalau dia tak punya kerjaan lain selain menggangu pikiran dan imajinasi ku. Dia telah mengajarkanku banyak hal. Cara menghargai perbedaan, cara bersabar dalam mengahadapi permasalahan, menagajarkan apa arti pengorbanan dan cara untuk menerima seseorang apa adanya. Tapi ketika dia pergi, dia lupa mengajarkan aku bagimana cara unuk melupakannya.
Aku sudah mulai melupakan semua rasa sakit yg telah dia goreskan dihatiku. Tapi entah mengapa, ketika hujan turun otakku seperti tak bisa berhenti memutar semua hal indah yang pernah aku lewati bersamanya
Perlahan tapi pasti, aku mulai bangkit dari rasa sakit itu. Aku tak ingin setiap detik, menit, jam, dan hariku hanya untuk memikirkan orang yg telah menggoreskan luka yg amat dalam di hatiku. Aku juga tak ingin kamu selalu melintasi pikiran dan imanjinasi ku lagi. Aku akan membuat hidupku bahagia, jauh lebih bahagia ketika aku bersama mu :) .